Banner Website 1.jpg
Badung, 20 Juli 2026 – Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA), Kementerian Perindustrian, resmi membuka rangkaian Creative Business Incubator (CBI) 2026 melalui webinar kick off bertajuk "Optimasi Operasional: Kunci Membangun Bisnis yang Efisien dan Produktif" pada Senin (20/7).

Kegiatan yang dilakukan secara hybrid ini dihadiri oleh para pelaku IKM, Asosiasi, Akademisi dan Dinas yang membidangi perindustrian dan perdagangan Indonesia meliputi  100 peserta daring via zoom meeting, 35 peserta yang hadir secara luring, dan juga 150 peserta melalui streaming YouTube. Kegiatan ini menjadi langkah awal pelaksanaan Program CBI 2026 sekaligus memberikan wawasan kepada pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) fesyen dan kriya mengenai pentingnya membangun sistem operasional yang efisien sebagai fondasi pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka, Reni Yanita, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sektor industri kreatif, khususnya fesyen dan kriya, terus menunjukkan perkembangan positif dan memiliki peluang besar untuk berkembang. Namun demikian, tantangan yang dihadapi saat ini bukan hanya menciptakan wirausaha baru, melainkan memastikan pelaku usaha mampu tumbuh menjadi bisnis yang produktif, inovatif, dan berdaya saing. 

"Tantangan kita saat ini bukan hanya melahirkan wirausaha baru, tetapi juga memastikan IKM dapat berkembang menjadi usaha yang lebih produktif, inovatif, naik kelas, dan berdaya saing. Oleh karena itu, program pendampingan bukan sekadar pelengkap, melainkan sebuah kebutuhan untuk mencetak generasi wirausaha yang siap bersaing di pasar global," ujar Reni Yanita. 

Kinerja ekspor juga menunjukkan hasil yang baik. Pada periode Januari – April 2026, nilai ekspor industri kriya mencapai USD 228 juta (dua ratus dua puluh delapan juta USD), industri fesyen pakaian jadi USD 2.788 juta (dua ribu tujuh ratus delapan puluh delapan juta USD), dan industri tekstil USD 1.045 juta (seribu empat puluh lima juta USD). Capaian tersebut menjadi peluang bagi IKM fesyen dan kriya untuk terus meningkatkan daya saing, kualitas produk, dan kapasitas usahanya agar mampu naik kelas serta menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun pasar global  

Lebih lanjut, Reni menjelaskan bahwa Direktorat Jenderal IKMA melalui BPIFK menghadirkan Program Creative Business Incubator (CBI) 2026 sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat kapasitas wirausaha muda sektor fesyen dan kriya melalui pendampingan yang komprehensif bersama praktisi, akademisi, dan para pelaku industri. 

"Melalui Program CBI, peserta akan mendapatkan pembelajaran yang dirancang sesuai kebutuhan wirausaha muda, mulai dari materi, diskusi, penugasan, hingga evaluasi. Harapannya, program ini mampu mendorong IKM naik kelas, memperluas pasar, serta mengembangkan bisnis yang berkelanjutan," tambahnya.

Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya, Dickie Sulistya Aprilyanto, menjelaskan bahwa tantangan operasional merupakan salah satu kendala utama yang sering dihadapi pelaku usaha ketika memasuki fase pertumbuhan. Oleh karena itu, Program CBI dirancang untuk membantu pelaku IKM membangun fondasi bisnis yang lebih kuat melalui pendampingan intensif dari para mentor dan praktisi.

Program CBI 2026 akan memberikan pembelajaran mengenai model bisnis, strategi pemasaran, manajemen operasional, pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, hingga penyusunan rencana bisnis dan pitching kepada investor. Seluruh materi disampaikan melalui kombinasi kelas, mentoring, penugasan, dan evaluasi 

Kick off menghadirkan empat narasumber yang memberikan perspektif mulai dari penguatan sistem operasional hingga pengalaman nyata penerapan peningkatan proses bisnis (Business Process Enhancement). Praktisi bisnis Sonny Agustiawan mengulas pentingnya membangun sistem produksi yang terstruktur melalui penyusunan standar operasional (SOP), pengendalian kualitas, serta identifikasi hambatan produksi agar pelaku usaha mampu meningkatkan kapasitas tanpa mengorbankan kualitas produk.

Sementara itu, dua alumni CBI, Akmal Idrus, Founder Rappo sekaligus Alumni CBI 2024, dan Dian Tri Finanti, Founder Seminyak Leather Bali sekaligus Alumni CBI 2020, membagikan pengalaman transformasi bisnis mereka setelah mengikuti program inkubasi. Keduanya menekankan bahwa perbaikan proses bisnis berhasil meningkatkan efisiensi produksi, menjaga konsistensi kualitas, memperluas pasar, hingga mendorong pertumbuhan usaha secara signifikan.

Melalui penyelenggaraan Kick Off Creative Business Incubator 2026, BPIFK berharap semakin banyak pelaku IKM yang mampu membangun sistem bisnis yang efisien, meningkatkan daya saing, serta memperluas akses pasar, baik di tingkat nasional maupun global. 

Pendafatran Creative Business Incubator 2026 dapat di akses melalui : https://bit.ly/daftarCBI2026 

powel

Admin

Author