Tactogram memfokuskan pada rancangan dengan nilai keberlanjutan yang dapat diterima secara global berdasarkan estetika fisik sebagai solusi untuk masalah visual yang mungkin muncul di masa depan. Perwujudan gagasan ini direpresentasikan menjadi keseimbangan nilai lingkungan dan sosial berbasis produk. Pertama, sebagai produk yang dapat dikreasikan dengan teknik produksi inklusif dan material ramah lingkungan sehingga prosesnya dapat dilakukan oleh pelaku dengan latar belakang geografis berbeda. Kedua, sebagai produk yang berperan membangun interaksi sosial lebih inklusi demi mencapai kesetaraan pemberdayaan ekonomi masyarakat lebih masif. Tactogram dipasang di lantai ruang adalah “sistem visual untuk arah dan mobilitas universal” adalah ajakan kepada masyarakat untuk menggunakan suatu ruang secara setara tanpa bergantung pada identitas kewardanegaraan & disabilitas. Rekomendasi yang dirancang untuk aplikasi tactogram adalah segitiga sebagai informasi tanda masuk, bulat sebagai informasi fasilitas ruang, garis sebagai informasi untuk penuntun, dan tanda silang sebagai informasi tanda keluar.
Keunggulan invensi tactogram adalah simbol taktil geometris yang juga dapat digunakan oleh orang awas, mampu mempermudah tunanetra untuk menjawab “dimana”, “kemana”, & “dari mana” secara serempak hanya dengan satu sentuhan telapak tangan dan/atau telapak kaki. Lalu, mampu otomatis memelihara repetisi aktivitas tersebut tanpa bergantung pada verbal selama penggunaan ruang publik melalui pengaturan angka & hierarki informasi, komposisi simbol, & fleksibilitas aplikasi. Keunggulan ini membuka komunikasi inklusif antara pengguna dengan disabilitas dan lintas budaya untuk berdaya bersama. Kemudian, invensi tactogram dimaksudkan untuk menjadi pemecah lima masalah spesifik. Pertama, data WHO di tahun 2010 yang mencatat jumlah tunanetra di seluruh dunia mencapai 285 juta jiwa dan diperkirakan bertambah tiga kali lipat di tahun 2050. Kedua, tunanetra menghadapi tantangan orientasi, mobilitas, komunikasi, dan sosial tetap dituntut untuk tetap dapat berdaya dalam mencukup kebutuhan hidup. Ketiga, Permen PUPR No. 14 Tahun 2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung yang belum detail mengatur efektivitas dan efisiensi penggunaan simbol taktil sebagai alat bantu aksesibilitas dalam suatu ruang bagi tunanetra. Keempat, piktogram dan ubin pemandu dinilai secara pribadi belum cukup inklusif dalam menyampaikan informasi penggunaan ruang secara serempak bagi tunanetra, hal ini dikarenakan potensi membuat tunanetra tersesat lebih tinggi akibat proses identifikasi dan navigasi ruang masih dilakukan pada waktu yang berbeda. Terakhir, membuka ruang eksplorasi material berkelanjutan untuk industri ubin berbasis kriya yang lebih ramah lingkungan.
Indonesia Fashion and Craft Awards 2024
Kriya
Pertigaan Legok No. 2 RT 01 / RW 01 Kec. Paseh Kab. Sumedang 45381
Produk