Perkembangan industri fesyen dan kriya tidak terlepas dari kekayaan budaya dan kearifan lokal yang menjadi sumber inspirasi bagi pelaku usaha untuk menghasilkan produk inovatif dengan menghadirkan ciri khas Indonesia. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas IKM fesyen dan kriya perlu diiringi dengan fasilitasi akses promosi, perluasan akses pasar, serta pengembangan jejaring kemitraan di tingkat nasional maupun global. Sejalan dengan upaya tersebut, Kementerian Perindustrian melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) berpartisipasi dalam BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 bekerja sama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Pameran yang berlangsung pada 29 Juli–2 Agustus 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) tersebut menjadi wadah strategis bagi produk IKM binaan untuk menjangkau calon pembeli, mitra usaha, serta pelaku industri dari dalam maupun luar negeri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa pengembangan industri fesyen dan kriya perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan kekayaan budaya Indonesia sebagai sumber inovasi. Menurutnya, partisipasi IKM dalam berbagai ajang promosi dan perdagangan dapat menjadi sarana untuk mengangkat produk unggulan sekaligus mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dan mitra bisnis.
"Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia. Pemerintah terus memacu potensi tersebut agar dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu diterima pasar nasional maupun internasional," ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (12/8).
Menperin Agus menambahkan bahwa keikutsertaan IKM dalam pameran berskala nasional seperti BTN Indonesia Fashion Week (IFW) merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan eksposur produk. "Keikutsertaan IKM fesyen dan kriya dalam pameran ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk, memperluas jejaring usaha, sekaligus membuka peluang kemitraan. Melalui interaksi langsung dengan ekosistem dan konsumen produk fesyen, IKM juga dapat memperoleh wawasan mengenai kebutuhan dan tren konsumen yang dapat menjadi bahan pengembangan usaha ke depan," ungkap Agus.
Memasuki tahun ke-14 penyelenggaraannya, BTN Indonesia Fashion Week 2026 mengusung tema "Wastra Ulos Simetria", yang mengangkat ulos sebagai salah satu warisan budaya khas Provinsi Sumatera Utara. Tema tersebut merepresentasikan upaya pelestarian budaya melalui karya dan inovasi kontemporer yang dikembangkan oleh para desainer serta pelaku industri kreatif, sehingga nilai-nilai tradisi tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan dunia fesyen.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita, menilai penyelenggaraan BTN Indonesia Fashion Week 2026 membuktikan besarnya potensi pasar fesyen dan kriya nasional. Selama lima hari penyelenggaraan, kegiatan tersebut menghadirkan lebih dari 200 desainer, 500 peserta pameran yang merupakan jenama fesyen, serta sekitar 4.000 pekerja kreatif. Rangkaian acara yang meliputi fashion show, pameran dagang, talkshow, forum kreatif, pertunjukan hiburan, hingga area kuliner tersebut berhasil menarik lebih dari 35.000 pengunjung dengan total nilai transaksi mencapai lebih dari Rp10 miliar.
"Besarnya jumlah pengunjung dan nilai transaksi tersebut menunjukkan tingginya antusiasme pasar sekaligus memperkuat peran sektor fesyen dan kriya dalam pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia," ujar Reni.
Lebih lanjut, Reni menyampaikan bahwa BPIFK memfasilitasi 11 IKM binaan yang merupakan alumni Program Creative Business Incubator (CBI), yaitu Pucok (Aceh), Koto Batu (Banten), Marline Indonesia (Jawa Barat), Arae (Jawa Barat), Winkle World (Jawa Barat), Delta (Jawa Barat), Cloth Inc (DKI Jakarta), Eboni Watch (Jawa Tengah), Shatda (Jawa Tengah), Ulur Wiji (Jawa Timur), dan Kominela (Bali).
"Salah satu IKM binaan, Koto Batu, turut berpartisipasi sebagai pengisi sesi Creative Workshop dengan tema Create Your Gemstone Bracelet pada 30 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku IKM untuk memperkenalkan keterampilan dan produk kepada audiens," ucap Reni.
Sementara itu, Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Dickie Sulistya Apriliyanto, menyampaikan bahwa fasilitasi keikutsertaan IKM dalam BTN IFW 2026 merupakan bagian dari upaya BPIFK untuk memberikan pengalaman langsung kepada IKM dalam memanfaatkan momentum pameran sebagai sarana promosi sekaligus pengembangan jejaring bisnis.
"Selama lima hari pelaksanaan pameran, 11 IKM binaan BPIFK berhasil membukukan penjualan lebih dari 460 produk dengan total nilai transaksi melampaui Rp100 juta. Selain penjualan langsung, partisipasi tenant BPIFK juga menghasilkan sejumlah potensi kerja sama business-to-business (B2B) setelah pameran," ucap Dickie.
Beberapa peluang kerja sama yang berhasil dijajaki antara lain IKM Arae dengan salah satu lembaga yang mempromosikan produk lokal di pasar luar negeri sebagai calon distributor. Sementara itu, Marline Indonesia berhasil menjajaki kolaborasi dengan artis dan influencer, serta pengembangan aksesori dan kancing custom bersama salah satu jenama aksesori terkemuka nasional. Shatda juga memperoleh peluang pengadaan kain custom untuk sebuah jenama fesyen produk anak.
"Peluang perluasan pasar juga diperoleh IKM Pucok, yang menjajaki kolaborasi pengembangan motif Aceh untuk koleksi busana dan publikasi motif Nusantara, sekaligus memperoleh peluang untuk berpartisipasi dalam pameran di Malaysia. Selain itu, terdapat penjajakan kolaborasi desain produk antara sesama tenant binaan BPIFK, yaitu Eboni Watch dengan salah satu outlet aksesori terkemuka di Indonesia," lanjut Dickie.
Dickie menambahkan bahwa berbagai capaian tersebut menunjukkan bahwa keikutsertaan BPIFK di IFW 2026 tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan penjualan, tetapi juga memperluas jejaring dan membuka peluang kolaborasi bisnis bagi IKM binaan.
"Kami akan terus memperkuat fasilitasi bagi IKM fesyen dan kriya agar semakin siap memanfaatkan peluang pasar. Diharapkan semakin banyak produk karya IKM Indonesia yang dikenal, digunakan, dan mampu memasuki pasar internasional dengan tetap membawa karakter serta kekayaan budaya Indonesia," ungkap Dickie.