Screenshot 2026-08-14 at 10.00.09.png

Screenshot 2026-08-14 at 09.59.01.png

Screenshot 2026-08-14 at 09.58.50.png

Di tengah persaingan bisnis industri yang semakin ketat, Kementerian Perindustrian memastikan agar setiap produk industri dalam negeri terus diminati oleh konsumen, berdaya saing, dan berkelanjutan. Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) terus berupaya agar produk industri, khususnya buatan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM), mampu masuk ke dalam rantai pasok industri besar dan menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui program mentorship atau pendampingan yang berkesinambungan.

Program pendampingan ini menjadi ruang diskusi bagi para wirausaha dalam menjalankan bisnisnya, terutama pada tahap rintisan. Selain itu, terdapat pendampingan yang dikhususkan bagi pelaku industri fesyen dan kriya yang saat ini terus berkembang dan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan industri nasional.

"Kami terus memantau dan memastikan agar para wirausaha muda dan IKM sektor fesyen dan kriya ini bisa lebih berani, produktif, dan naik kelas dengan memiliki strategi bisnis yang tepat, terukur, dan terus dievaluasi. Oleh sebab itu, kami memiliki Program Creative Business Incubator (CBI) yang diinisiasi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di bawah Ditjen IKMA yang fokus pada pengembangan sektor industri ini," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (12/8).

Menperin menerangkan bahwa pertumbuhan industri fesyen dan kriya nasional menunjukkan tren positif, yaitu meningkat dari 2,43% pada tahun 2024 menjadi 4,93% pada tahun 2025. Kinerja ekspor industri tersebut pada periode Januari–April 2026 juga cukup baik, yaitu mencapai USD 228 juta untuk nilai ekspor industri kriya, USD 2,78 miliar untuk industri fesyen pakaian jadi, serta USD 1,04 miliar untuk industri tekstil. Menperin menilai bahwa berkembangnya industri ini juga berimplikasi pada semakin ketatnya persaingan di dalam negeri.

"Tantangannya yaitu bagaimana desainer maupun pemilik usaha dan jenama mampu membangun identitas yang kuat, memahami konsumen, dan menciptakan nilai unik yang menjadi keunggulan kompetitif di tengah persaingan pasar," kata Menperin.

Menperin yakin bahwa program pendampingan Creative Business Incubator yang dilaksanakan oleh BPIFK sangat diperlukan untuk menguatkan rantai pasok lokal yang terintegrasi, sehingga IKM dapat saling terhubung dan memiliki arah serta tujuan bisnis yang jelas. Pada medio Juli lalu, BPIFK telah membuka Program CBI 2026 dalam rangka pengembangan wirausaha muda di sektor industri kreatif fesyen dan kriya.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita, mengungkapkan bahwa Program CBI dilaksanakan melalui beberapa tahap pendampingan oleh akademisi dan praktisi yang kompeten di bidang fesyen dan kriya. "Peserta akan mendapatkan kelas dengan kurikulum yang telah disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan wirausaha muda, serta metode pembelajaran berupa materi, diskusi, penugasan mandiri, dan evaluasi, yang diharapkan mampu mendukung upaya IKM agar dapat naik kelas, memperluas pasar, serta mengembangkan bisnis yang berkelanjutan," ucap Dirjen IKMA.

Sejak 2018, program coaching CBI telah melahirkan sejumlah wirausaha alumni yang menunjukkan perkembangan bisnis signifikan. Para wirausahawan muda tersebut berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan omzet, bahkan naik kelas dari skala usaha mikro menjadi usaha kecil serta dari skala kecil menjadi menengah.

"Sejumlah alumni bahkan mampu masuk ke dalam rantai pasok industri yang lebih besar melalui kemitraan dengan brand besar, seperti jenama Rappo, alumni CBI 2024 asal Makassar, yang berkolaborasi dengan Garuda Indonesia dan Borobudur Marathon berkat inovasinya mengolah limbah plastik menjadi produk kreatif bernilai tinggi," tutur Reni.

Pada kelas klasikal yang digelar pada tahun pertama program CBI, sebanyak 20 peserta terpilih akan mengikuti kelas daring selama 14 hari dan kemudian dikurasi menjadi 8 peserta untuk mengikuti kelas tatap muka di Bali. Peserta akan mendapatkan materi mengenai manajemen strategi, manajemen operasi, hukum bisnis, hingga keuangan. Pada kelas tatap muka, peserta akan didampingi secara intensif oleh seorang mentor.

"Mentor akan mengevaluasi capaian kontrak, kendala peserta, hingga bersama-sama menyusun langkah tindak lanjut hingga mencapai tujuan bisnis utama pada akhir tahun pelatihan," jelas Reni.

Nantinya, para lulusan Program CBI akan menjadi mitra binaan Kementerian Perindustrian dan berkesempatan memiliki jejaring mitra strategis serta mengikuti berbagai pameran nasional dan internasional. Para lulusan juga dapat mengikuti business pitching dengan mitra ritel CBI serta pemodal (angel investor) dan mitra akses pendanaan.

Selain program inti CBI, BPIFK juga rutin menggelar diskusi-diskusi terbuka, antara lain seminar dan workshop Creative Talk Offline di Celuk Design Centre, Gianyar, Bali, untuk menjaring semakin banyak pelaku usaha kreatif yang berkomitmen untuk naik kelas. Diskusi interaktif ini juga menjadi bagian dari rangkaian sosialisasi Program Creative Business Incubator yang pendaftarannya dibuka pada 20 Juli–17 Agustus 2026.

"BPIFK rutin menggelar Creative Talk, baik melalui daring maupun tatap muka, tidak hanya untuk pelaku IKM yang sudah naik daun, tetapi juga menyasar pelaku usaha fesyen dan kriya yang ingin sekali naik kelas dan berkomitmen mengikuti tahapan-tahapan membangun bisnis berkelanjutan," ucap Kepala BPIFK Dickie Sulistya.

Dickie menekankan agar pelaku usaha di sektor ini memiliki daya juang, serta kemampuan untuk adaptif dan inovatif dengan jeli melihat kebutuhan pasar. Pada diskusi Creative Talk bertajuk "Membangun Brand dan Menentukan Nilai Unik agar Bisnis Dilirik Pasar" pada 30 Juli 2026, founder jenama TriCycle yang sekaligus lulusan Program CBI 2018, Annisa Fauziah, berbagi strategi kepada para wirausaha muda untuk menemukan cara menciptakan nilai unik bisnis (unique value proposition) menjadi sebuah keunggulan yang memiliki nilai jual.

Annisa mengisahkan tantangan usahanya dalam memahami kebutuhan pelanggan sebagai dasar untuk mengembangkan produk dan membangun identitas bisnis yang kuat. Peserta diajak memahami bahwa keberhasilan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam mengenali siapa konsumennya, memahami permasalahan yang mereka hadapi, serta menawarkan solusi yang relevan melalui produk atau layanan yang dimiliki. Ia memperkenalkan teknik Value Proposition Canvas, sebuah alat yang membantu pelaku usaha memetakan kebutuhan pelanggan sekaligus merumuskan nilai unik yang ditawarkan bisnis.

Tidak hanya berbentuk seminar, Creative Talk juga menghadirkan sesi workshop penyusunan Value Proposition Canvas. Pada sesi ini, peserta secara aktif menyusun pemetaan bisnis masing-masing, mulai dari mengidentifikasi target pelanggan, kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi, hingga merumuskan solusi dan nilai tambah yang ditawarkan produk. Selanjutnya, beberapa peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil penyusunan Value Proposition Canvas yang telah dibuat. Narasumber memberikan masukan berdasarkan pengalaman membangun bisnis sehingga peserta memperoleh perspektif praktis yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha.

"Kami berharap semakin banyak pelaku usaha yang memanfaatkan fasilitas pendampingan dari Kemenperin ini sebagai wadah pengembangan bisnis, perluasan jejaring, dan peningkatan daya saing. Semakin banyak peserta CBI yang berhasil, maka tentu kontribusi sektor industri fesyen dan kriya juga akan semakin besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional," kata Dickie.

powel

Admin

Author

Butuh info layanan atau program BPIFK?
Yuk tanya langsung!

Contact BPIFK